You are here: Home » Bahan Alami Kesehatan » Inilah Manfaat Temu Putih untuk Kanker

Inilah Manfaat Temu Putih untuk Kanker

khasiat temu putih

khasiat temu putih

Manfaat Temu Putih Untuk Kanker  – Temu Putih Curcuma Zedoaria atau yang mudah disebut temu putih adalah tumbuhan rempah-rempah yang banyak ditemukan didaerah timur. Tidak hanya sebagai rempah-rempah, di Cina temu putih juga sering digunakan sebagai terapi kanker rahim. Untuk mematikan sel kanker, temu putih dapat dikombinasikan dengan terapi lainnya seperti radioterapi dan kemoterapi dapat juga digunakan sebagai bahan infus yang dialirkan ke darah pasien.

Temu putih mengandung banyak senyawa kimia seperti: 1—1,5% minyak dasar yang terdiri dari d-borneol, d-camphor, cineole, curculone, curcumadiol, dehydrocurdione,curcumanolide A dan B, d-camphene,curcumenol, curcumeone curcumin, curcumol, curdione, alpha-pinene, getah perekat, zat tepung/kanji, damar, sesquiterpene, dan alkohol sesquiterpen. James A. Duke dalam buku Phytochemical Constituents of Grass Herbs and Other Economic Plants, temu putih juga juga mengandung tanin dan flavonoid yang diduga berkhasiat sebagai antitumor. Kandungan sesquiterpen didalamnya juga berkhasiat sebagai antiradang. Sifat ini berhubungan dengan efek antioksidan.

Hasil penelitian American Institute Cancer Reports menyatakan temu putih mengandung RIP (ribosome inacting protein), zat antioksidan, dan antikurkumin. RIP berkhasiat menonaktifkan pertumbuhan sel kanker, meluruhkan sel kanker tanpa merusak jaringan, juga memblokir pertumbuhannya. Zat antioksidan  berfungsi mencegah kerusakan gen, sementara zat antikurkumin berkhasiat antiradang.

Sejak zaman dahulu, zedoaire—sebutan temu putih di Perancis, menjadi bahan ramuan herbal untuk menyembuhkan pasien yang mengalami perut kembung (karminatif) dan gangguan pencernaan. Belum diketahui mekanisme dari sifat pahit tanaman ini sendiri. Namun diindikasikan bahwa sifat itu merangsang sekresi kelenjar pencernaan dan memperkuat otot organ pencernaan melalui sistem saraf sehingga sistem pencernaan diperkuat dan mampu merangsang pembentukan suatu zat yang berakibat pada rangsangan tonifikasi (usaha untuk menguatkan fungsi-fungsi organ tubuh agar metabolisme menjadi lebih lancer dan imunitas tubuh menjadi prima).

Temu putih juga banyak digunakan sebagai obat peluruh air seni, antimual, antipiretik, antidiare, dan pembersih bagi wanita usai melahirkan. Bagi yang mengalami halitosis (bau mulut), dapat juga diatasi dengan mengunyah tanaman ini. Bahkan Orang Jerman mengatakan bahwa sifat pahit yang dimiliki temu putih mampu merangsang empedu dan membersihkan lemak yang terdapat pada hati.

Jika temu putih dilarutkan dalam alcohol tinktur akan mampu mencegah kambunya penyakit seperti malaria, dapat juga untuk mengobati memar, borok, bisul, atau penyakit kulit lainnya. Abu yang masih hangat dan segar dari tanaman ini dapat digunakan sebagai penutup luka. Di Indonesia, tunas muda temu putih banyak dijadikan sebagai bahan sayur. Sedangkan daunnya memberi rasa pada makanan. Temu putih kerap ditumbuk dan dicampur dengan jahe atau kunyit untuk membuat pasta bumbu kari. Bahkan, tanaman ini juga dimanfaatkan sebagai bahan pembuat parfum. Temu putih yang diduga berasal dari India timur laut, sekarang budidayanya tersebar hingga Asia Selatan, Asia Tenggara, bahkan Cina dan Taiwan.

Meski ada yang mengatakan ia tanaman asli India dan Indonesia, tetapi menurut dr Adji Suranto, peneliti pada Asosiasi Pengembang Tanaman Obat Indonesia (APTOI), temu putih ini berasal dari Pegunungan Himalaya. Tanaman ini sampai ke Eropa berkat jasa orang Arab yang membawanya pada abad ke-16. Buku Mrs. Grieve’s Modern Herbal menyatakan varietas komersial temu putih datang dari Cina, Bengal, Madras, Jawa, dan Cochin-Cina. Tumbuh di daerah dengan ketinggian hingga 1.000 m dpl, di tanah berpasir membuat tanaman ini berdrainase baik.

Menurut Heyne dalam bukunya yang berjudul Tanaman Berguna Indonesia, temu putih tumbuh liar di Sumatera, hutan jati Jawa Timur, dan tumbuh umum di Jawa Barat. Tanaman anggota famili Zingiberaceae itu tidak tumbuh dalam rumpun,  memiliki tinggi tanaman 60—90 cm, daun berbentuk panjang, lonjong, dengan ujung meruncing tak berbulu dengan tulang daun ungu, panjang pelepah daun yang mencapai 35—60 cm, serta bunga majemuk berwarna merah muda dengan panjang mahkota 3,5—4,5 cm. Tanaman herbal ini memiliki rimpang besar, berbentuk bulat dengan banyak cabang, kulit  luar tipis berwarna putih keabuabuan dan di dalamnya terdapoat perpaduan kuning pucat hingga kuning terang. Baunya pun seperti kapur barus dengan rasa hangat menyerupai jahe, memiliki aroma agak keras dan sedikit pahit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *